Thursday, January 25, 2018

Jasa Sumur Bor Sabu Raijua

Pulau Sabu juga dikenal dengan sebutan Sawu atau Savu. Penduduk di pulau ini sendiri menyebut pulau mereka dengan sebutan Rai Hawu yang artinya Tanah dari Hawu dan orang Sabu sendiri menyebut dirinya dengan sebutan Do Hawu. Nama resmi yang digunakan pemerintah setempat adalah Sabu. Masyarakat Sabu menerangkan bahwa nama pulau itu berasal dari nama Hawu Ga yakni nama salah satu leluhur mereka yang dianggap mula-mula mendatangi pulau tersebut.
Menurut sejarah, nenek moyang orang Sabu berasal dari suatu negeri yang sangat jauh yang letaknya di sebelah Barat pulau Sabu. Pada abad ke-3 sampai abad ke-4 terjadi arus perpindahan penduduk yang cukup besar dari India Selatan ke Kepulauan Nusantara. Perpindahan penduduk itu disebabkan karena pada kurun waktu itu terjadi peperangan yang berkepanjangan di India Selatan. Dari syair-syair kuno dalam bahasa Sabu dapat diperoleh informasi sejarah mengenai negeri asal leluhur Sabu. Syair-syair itu mengungkapkan bahwa negeri asal orang Sabu terletak sangat jauh di seberang lautan di sebelah Barat yang bernama Hura. Di India terdapat Kota Surat di wilayah Gujarat Selatan yang terletak di sebelah Kota Bombay, Teluk Cambay, India Selatan. Kota Gujarat pada waktu itu sudah terkenal sebagai pusat perdagangan di India Selatan. Orang Sabu tidak dapat melafalkan kata Surat dan Gujarat sebagaimana mestinya, sehingga mereka menyebutnya Hura. Para pendatang dari India Selatan ini menjadi penghuni pertama pulau Raijua di bawah pimpinan Kika Ga dan saudaranya Hawu Ga. Keturunan Kika Ga inilah yang disebut orang Sabu (Do Hawu). Setelah kawin mawin mereka kemudian menyebar di Pulau Sabu dan Raijua dan menjadi cikal bakal orang Sabu.
Pembagian wilayah di Sabu terjadi pada masa Wai Waka (generasi ke 18). Pembagian ini dibuat berdasarkan jumlah anak-anaknya yang akan dibagikan wilayahnya masing-masing yakni:
  • Dara Wai mendapat wilayah Habba (Seba)
  • Kole Wai mendapat wilayah Mehara (Mesara)
  • Wara Wai mendapat wilayah Liae
  • Laki Wai mendapat wilayah Dimu (Timu)
  • Dida Wai mendapat wilayah Menia
  • Jaka Wai mendapat wilayah Raijua
Pembagian ini telah menyebabkan terbentuknya komunitas genelogis-teritorial, dimana suatu rumpun keluarga terikat pada pemukiman tertentu. Karena rumpun ini berkembang semakin besar maka dibentuk suatu sub rumpun yang disebut Udu yang dikepalai oleh seorang Bangu Udu. Di Habba (Seba) terdapat 5 Udu yang nantinya akan terbagi lagi menjadi Kerogo-Kerogo. Di Sabu dan Raijua seluruhnya terdapat 43 Udu dan 104 Kerogo.
Diyakini terdapat pengaruh Majapahit yang pada abad ke 14 sampai awal abad ke 16 berhasil menguasai dan menyatukan nusantara terhadap kehidupan masyarakat Sabu. Beberapa bukti tersebut dapat dilihat pada :
  1. Mitos (cerita rakyat) yang memberikan penghormatan terhadap Raja Majapahit sehingga muncul cerita bahwa Raja Majapahit dan istrinya pernah tinggal di Ketita di Pulau Raijua dan Pulau Sabu.
  2. Ada kewajiban bagi setiap rumah tangga untuk memelihara babi yang setiap saat akan dikumpul untuk persembahan kepada Raja Majapahit.
  3. Ada batu peringatan untuk Raja Majapahit yang disebut Wowadu Maja dan sebuah Sumur Maja di wilayah Daihuli dekat Ketita.
  4. Setiap 6 tahun sekali ada upacara yang diadakan oleh salah satu Udu di Raijua, Udu Nadega yang diberi julukan Ngelai yang menurut cerita adalah keturunan orang-orang Majapahit.
  5. Motif pada tenunan selimut orang Sabu yang bergambar Pura.
  6. Di Mesara ada desa yang bernama Tana Jawa yang penduduknya mempunyai profil seperti orang Jawa dan ada tempat di dekat pelabuhan Mesara yang disebut dengan Mulie yang diambil dari bahasa Jawa Mulih yang berarti pulang                                                               

  7. sumber Pustaka :http://saburaijuakab.go.id/2016/index.php/en/profil-daerah/sejarah

Jasa Sumur Bor Rote Ndao

Kabupaten Rote Ndao merupakan kabupaten yang terletak paling selatan di Negara Republik Indonesia dan merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Kupang Propinsi Nusa Tenggara Timur yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2002 dan memiliki luas wilayah 1280,10 km2


Jasa Sumur Bor Malaka

 Profile kabupaten Malaka

     Pusat pemerintahan Kabupaten Malaka berada di Betun. Berdasarkan data Kecamatan dalam Angka tahun 2014 tercatat bahwa jumlah penduduk Kabupaten Malaka adalah 171.079 jiwa.

Batas Wilayah
·         Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Naneut Duabesi dan Kecamatan Raimanuk Kabupaten Belu
·         Sebelah selata berbatasan dengan Laut Timor
·         Sebelah timur berbatasan dengan wilayah Negara Republik Demokratik TimorLeste
·         Sebelah barat berbatasan dengan wilayah Kecamatan Insana dan Kecamatan Biboki Tampah Kabupaten Timor Tengah Utara


Jasa sumur Bor Atambua

 Profile Kabupaten Belu

Kabupaten Belu adalah sebuah kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Kabupaten ini beribu kota di Kota Atambua. Memiliki luas wilayah 1.284,94 km², terbagi dalam 12 kecamatan, 12 kelurahan dan 96 desa, termasuk 30 desa dalam 8 kecamatan perbatasan.
Nama Nama Lain: Rai Belu, Tasifeto, Fialaran-Lamaknen, Manuaman Lakaan.
Kata "Belu" menurut penuturan para tetua adat bermakna "persahabatan" yang bila diterjemahkan secarah harafiah ke dalam bahasa Indonesia berarti "teman" atau "sobat". Ini merupakan makna simbol yang mendeskripsikan bahwa pada zaman dahulu para penghuni Belu memang hidup saling memperhatikan dan bersahabat dengan siapa saja. Namun secara politis oleh Pemerintah Belanda, Belu dibagi menjadi dua bagian yaitu Belu bagian utara dan Belu bagian selatan, yang hingga sekarang masih terasa pengaruhnya.Batas
Wilayah Kabupaten Belu berbatasan dengan:Utara: Selat Ombai,Selatan: Kabupaten Malaka
Barat: Kabupaten Timor Tengah Utara,Timur: Timor Leste
Pembagian daerah Administratif
*.1. Kecamatan Lamaknen Ibukota di Weluli
*.2. Kecamatan Lamaknen Selatan Ibukota di Aubulak
*.3. Kecamatan Raihat Ibukota di Haekesak
*.4. Kecamatan Lasiolat Ibukota di Lahurus
*.5. Kecamatan Tasifeto Timur Ibukota di Wedomu
*.6. Kecamatan Kota Atambua Pusat
*.7. Kecamatan Kota Atambua Barat
*.8. Kecamatan Kota Atambua Selatan
*.9. Kecamatan Kakuluk Mesak Ibukota di Atapupu
*.10. Kecamatan Tasifeto Barat Ibukota di Kimbana
*.11. Kecamatan Nanaet Duabesi Ibukota di Laktutus
*.12. Kecamatan Raimanuk Ibukota di Mandeu.
Geografi
*.Gunung Tertinggi                          : Lakaan.
*.Bukit-bukit penting                        : Lidak, Mandeu.
*.Pelabuhan Laut Terpenting           : Atapupu.
*.Bandara Terpenting                      : A.A. Bere Talo di Haliwen.
*.Pintu Imigrasi Terpenting              : Mota-Ain, Turiskain, Lakmaras, Laktutus.
Budaya
*.Kerajaan Terpenting: Loro Bauho-Fialaran dan Lamaknen.
*.Gereja Tertua: Atapupu, Lahurus, Halilulik dan Katedral Atambua serta Nualain.
*.Tarian Asli Belu: Likurai, Tebe dan Bidu Kikit.
*.Bahasa Daerah Terpenting: Tetun, Bunak, Kemak dan Dawan R.
*.Tempat Wisata Gunung: Ksadan Takirin, Ksadan Fatulotu, Gunung Lakaan, Fulan Fehan, Air Terjun Siata Mauhalek, Anin Nawan, Bukit Mandeu, Bukit Lidak, Mataair Lahurus, Mataair Webot Haekesak, Niki Tohe Leten, Kampung Kewar, Air Terjun Weró, Bendungan Haekriit.
*.Tempat Wisata Pantai: Pasir Putih, Kolam Susuk, Teluk Gurita.
*.Lagu Daerah Terkenal: Oras Loro Malirin, Manumutin Torok, Olala, Lolon Gol.
*.Hotel Terkenal: Matahari, Timor, Intan, Liurai, Paradiso, Nusantara 1,2, Klaben.
*.Makanan Terkenal: Ut Moruk, Se'i Babi, Dendeng Sapi, Sambal Tomat Lahurus, Bawang Weluli, Ikan Atapupu, Padi Haekesak, Jagung Bose, Batar Da'an, Tua Mutin.

Sumber pustaka: http://www.belukab. go.id/